|
|
|
|
Senin, 11 Juli 2005
| |
|
Ada orang yang mengerti ayat Allah, fasih tetapi agama tak ada dalam dirinya. Menurut Hamka, mereka ditamsilkan ibarat "anjing". Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-107
oleh Adian
Husaini
“Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami,
kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, maka syaitanpun menjadikan dia
pengikutnya, lalu jadilah dia daripada orang-orang yang tersesat. Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya maka dia menjulurkan
lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya
(juga).
Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS al-A’raf:175-176)
Menarik untuk
merenungkan ayat Al-Quran tersebut. Ayat 175 surat al-A’raf ini menceritakan
tentang orang-orang yang telah didatangkan ayat-ayat Allah kepada mereka, tetapi
dia kemudian melepaskan diri dari ayat-ayat itu.
Dalam Tafsir Al-Azhar,
Prof. Dr. Hamka menjelaskan, bahwa orang-orang ini sudah terhitung pakar atau
ahli dalam mengenal ayat-ayat Allah. Tetapi, rupanya, semata-mata mengenal ayat
Allah saja, kalau tidak pandai mengendalikan hawa nafsu, maka pengetahuannya
tentang ayat-ayat Allah itu satu waktu bisa tidak memberi faedah apa-apa, bahkan
dia terlepas dari ayat-ayat itu. Ayat-ayat itu tanggal atau copot dari dirinya.
Dalam ayat ini, kata
digunakan lafazh ‘insalakha’, arti asalnya ialah ‘menyilih’ (ganti
kulit. Bahasa Jawa: mlungsungi untuk ular). Atau, ketika orang menyembelih
kambing, maka dia kuliti dan dia tanggalkan kulit kambing, sehingga tinggal
badannya saja. Ini juga disebut ‘insalakha’.
Masih tulis Hamka
dalam tafsirnya: “Nabi disuruh menceritakan keadaan orang yang telah mengerti
ayat-ayat Allah, fasih menyebut, tahu hukum halal dan hukum haram, tahu fiqih
dan tahu tafsir, tetapi agama itu tidak ada dalam dirinya lagi. Allahu Akbar!
Sebab akhlaknya telah rusak.”
“Maka syaitanpun
menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah dia daripada orang-orang yang
tersesat.”
Kata Buya Hamka,
rupanya karena hawa nafsu, maka ayat-ayat yang telah diketahui itu tidak lagi
membawa terang ke dalam jiwanya, melainkan membuat jadi gelap.
Akhirnya dia pun
menjadi anak buah pengikut syaitan, sehingga ayat-ayat yang dia kenal dan dia
hafal itu bisa disalahgunakan. Dia pun bertambah lama bertambah sesat.
Seumpama ada seorang
yang lama berdiam di Makkah dan telah disangka alim besar, tetapi karena
disesatkan oleh syaitan, dia menjadi seorang pemabuk, dan tidak pernah
bersembahyang lagi.
“Maka, karena dia
telah sesat, dipakainyalah ayat Al-Quran yang dia hafal itu untuk mempertahankan
kesesatannya, dengan jalan yang salah. Dia masih hafal ayat-ayat dan hadits itu,
tetapi ayat dan hadits sudah lama copot dari jiwanya, dan dia tinggal dalam
keadaan telanjang. Na’udzubillah min dzalik,” demikian tulis Hamka
dalam tafsir terkenalnya.
Terhadap manusia
jenis ini, al-Quran menggunakan perumpamaan dan sebutan yang sangat buruk, yaitu
mereka diumpakan sebagai anjing. Hamka memberi uraian terhadap tamsil orang yang
menukar kebenaran dengan kekufuran ini: “Laksana anjing, selalu kehausan saja,
selalu lidahnya terulur karena tidak puas-puas karena tamaknya.
Walaupun dia sudah
dihalaukan pergi, lidahnya masih terulur, karena masih haus, karena masih merasa
belum kenyang, dan walaupun dibiarkan saja, lidahnya diulurkannya juga.
Cobalah pelajari
dengan seksama, mengapa maka binatang yang satu itu, anjing, selalu mengulurkan
lidah? Sebabnya ialah karena tidak pernah merasa puas. Lebih-lebih pada siang
hari, di kala panas mendenting-denting.
Anjing mengulurkan
lidah terus, karena selalu merasa belum kenyang, karena hawanafsunya belum juga
terpenuhi.”
Tamsil Al-Quran
tentang anjing untuk orang-orang yang membuang kebenaran dan mengikuti kebatilan
ini sangat penting untuk kita renungkan, mengingat kita melihat satu fenomena
aneh di Indonesia, banyaknya orang-orang yang dulunya belajar agama di
institusi-institusi pendidikan Islam, mengerti ayat-ayat Allah, tetapi akhirnya
justru menjadi garda terdepan dalam melawan dan melecehkan ayat-ayat Allah
sendiri.
Ini tidak bisa
disalahkan pada lembaga pendidikannya begitu saja, tetapi perlu ditanyakan,
mengapa ada manusia yang menjual kebenaran, membuang kebenaran yang telah
diketahuinya, dan kemudian memilih menjadi ‘anjing’ sebagaimana disebutkan dalam
Al-Quran.
Peringatan Allah SWT
tersebut sangat penting untuk direnungkan oleh siapa saja. Oleh kita semua. Agar
kita tidak masuk ke dalam kategori ‘anjing’ yang menjulur-julurkan
lidahnya.
Kita mengingatkan
saudara-saudara kita, yang mungkin lupa akan peringatan Allah tersebut. Agar
kita tidak mudah menjual ayat-ayat Allah, membuangnya, bahkan tak segan-segan
menjadi garda terdepan dalam menghujat dan memutarbalikkan kebenaran.
Kita, misalnya,
berkewajiban mengingatkan orang yang mengerti ayat-ayat Allah, malah menjadi
penghujat ayat-ayat Allah itu sendiri, hanya karena terpesona dan terkagum-kagum
oleh satu atau dua tulisan kaum orientalis yang melakukan studi Al-Quran.
Belum lama ini (5 Juli
2005), seorang yang mengaku Islam Liberal yang berasal dari satu pelosok kampung
di wilayah Bekasi meluncurkan tulisan yang memuji-muji habis-habisan orientalis
dalam studi Al-Quran. Tulisan itu dia beri judul “AI-Qur'an dan
Orientalisme”.
Bagi yang mengikuti
studi Al-Quran dengan cermat, tulisan ini sebenarnya berkualitas sampah, tidak
ada data-data ilmiah yang ditampilkan, tetapi hanya berupa puji-pujian tanpa
bukti terhadap kaum orientalis.
Tulisan ini sebenarnya
sangat memalukan, bagi seorang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Timur
Tengah. Tapi, tampak, bahwa rasa malu itu sudah hilang dari dirinya.
Tentang studi para
orientalis terhadap Al-Quran, si penulis itu menyatakan:
”Studi mereka
tentang sejarah Alquran misalnya, sangat padat dan kaya dengan rujukan
sumber-sumber Islam klasik. Penguasaan mereka akan bahasa Arab dan peradaban
Mediterania membantu kita dalam mengeksplorasi hal-hal yang selama ini tercecer
dalam tumpukan kitab-kitab klasik.
Dengan bantuan para
orientalis, kita dapat melihat secara lebih komprehensif lagi sejarah
pembentukan Alquran.
Satu hal yang kerap
diabaikan (atau sengaja diabaikan) kaum muslim adalah bahwa para orientalis itu
juga merujuk buku-buku klasik yang bisa ditelusuri dan dibuktikan.
Saya pernah
mengecek sebagian sumber-sumber kitab klasik yang dirujuk Arthur Jeffrey,
Theodor Noldeke, dan John Wansbrough dalam studi mereka tentang sejarah Alquran.
Sejauh menyangkut
data, tak ada satupun kekeliruan yang mereka perbuat. Semuanya tepat dan
mengagumkan.”
Cobalah kita simak
kata-kata penulis yang juga dosen pemikiran Islam di Universitas Paramadinamulya
ini. Begitu tinggi dia menghargai orientalis dan sebaliknya mencurigai para
ulama Islam.
Padahal, kita sudah
diajarkan oleh Rasulullah saw untuk bersikap kritis terhadap sumber-sumber dari
kaum Yahudi dan Kristen. Kita tidak boleh menolak atau menerima begitu
saja.
Tetapi, bukti-bukti
menunjukkan, banyak orientalis yang memang melakukan studinya dengan tidak
jujur.
Justru orientalis yang
disebut oleh penulis itu termasuk ke dalam daftar orientalis yang licik
dalam
studi Al-Quran. Bahkan, sebagian orientalis sudah mengritik kajian mereka.
Sebutlah contoh John
Wansbrough. Seorang orientalis bernama Juynboll secara mendasar telah mengkritik
Wansbrough karena terlalu selektif dalam memilih sumber-sumber rujukan yang
sesuai dengan pra-anggapan penelitiannya.
Wansbrough
berpendapat, bahwa tidak ada teks Al-Quran yang fixed sebelum akhir abad ke-2
Hijriah atau awal abad ke-3 Hijriah. Tetapi, Juynboll membuktikan, bahwa
Wansbrough berlaku curang karena tidak memasukkan literatur Islam sebelum abad
ke-2 yang dapat menggoyahkan teorinya, seperti Kitab Al- ’Alim wa
al-Muta’allim and Risala ila Utsman al-Baitti yang keduanya
ditulis oleh Abu Hanifah (150 H.).
Estelle Whellan juga
telah meruntuhkan kesimpulan Wansbrough, dengan membuktikan bahwa teks Al Quran
telah menjadi teks yang tetap pada abad pertama Hijrah.
Karena itu, kita
heran, bagaimana si penulis artikel tersebut berani menyatakan bahwa “Sejauh
menyangkut data, tak ada satupun kekeliruan yang mereka perbuat.Semuanya tepat
dan mengagumkan.” Jelas kesimpulan yang ngawur.
Para orientalis
sendiri tentu tertawa melihat kesimpulan penulis yang ‘terlalu panjang dalam
menjulurkan lidahnya’. Apalagi, dia sendiri mengaku baru membaca sebagian karya
para orientalis tersebut.
Belum tamat membacanya
sudah memuji setinggi langit, dan taklid buta terhadap kajian orientalis.
Dalam film-film
tentang zaman penjajahan Belanda, kita menyaksikan kaum pribumi para kaki tangan
Belanda (londo ireng), tak jarang melakukan kekejaman melebihi orang
Belanda sendiri terhadap kaum pribumi.
Biasanya, para
londo ireng itu ingin, agar kesetiaanya kepada ‘sang tuan’ tidak
diragukan.
Untuk itu, ia
menguliti dirinya sendiri, membuang seluruh identitas pribuminya, agar ia
benar-benar tampak lebih Belanda ketimbang orang Belanda sendiri.
Disamping rajin
memuji-muji tuannya, ia juga tak segan-segan memasok informasi tentang
orang-orang yang dianggap membahayakan kepentingan sang penjajah. Tentu saja,
semua itu ada imbalannya.
Tentang Arthur
Jeffery, Adnin Armas, kandidat doktor di ISTAC Kuala Lumpur, yang baru
menerbitkan bukunya, “Metode Bibel dalam Studi Al-Quran” membuktikan
ketidakjujuran orientalis yang satu ini dalam melakukan studi Al-Quran.
Misalnya, dikatakan
Jeffery, bahwa ketika Uthman r.a. mengirim teks standar ke Kufah dan
memerintahkan supaya teks-teks yang lain dibakar, Ibnu Mas’ud menolak
menyerahkan mushafnya.
Dia marah karena teks
yang dibuat Zaid ibn Thabit yang lebih muda, lebih diprioritaskan dibandingkan
mushafnya.
Padahal ketika Ibn
Mas’ud sudah menjadi Muslim, Zaid masih berada dalam pelukan orang-orang kafir.
Di sini tampak jelas
kekeliruan atau ketidakjujuran Jeffery dalam menulis sejarah Al-Quran. Ia tidak
mengkaji secara menyeluruh sikap Abdullah ibn Mas’ud.
Padahal, Kitab
al-Mashaahif – yang diedit sendiri oleh Jeffery -- menunjukkan bahwa
Ibn Mas’ud meridhai kodifikasi yang dilakukan Uthman bin ‘Affan. Ibnu Mas’ud
mempertimbangkan kembali pendapatnya yang awal dan kembali kepada pendapat
Uthman dan para Sahabat lainnya.
Ibnu Mas‘ud menyesali
dan malu dengan apa yang telah dikatakannya. Jadi, pendapat Jeffery menjadi naïf
karena justru dari kedua buku yang diedit oleh Jeffery, Ibnu Mas‘ud pada
akhirnya menyetujui kebijakan Utsman, yang disokong oleh para Sahabat lainnya.
Bukti-bukti kekeliruan
orientalis dalam melakukan studi Islam sudah banyak ditunjukkan oleh para
cendekiawan Muslim atau oleh para orientalis sendiri.
Kaum Muslim juga
maklum, bahwa tidak semua hasil studi mereka ditolak begitu saja. Ada yang
bermanfaat untuk kaum Muslim. Tetapi, memuji mereka tanpa ilmu pengetahuan yang
memadai adalah sikap naif yang tidak perlu dilakukan.
Tamsil Al-Quran
tentang anjing yang menjulur-julurkan lidahnya perlu kita renungkan secara
mendalam. sebagai Muslim tentu kita tidak menginginkan diri kita sendiri
termasuk kategori ‘anjing’
sebagaimana digambarkan dalam surat al-A’raf tersebut.
Jika kita sudah
memahami ayat-ayat Allah SWT, seyogyanya kita berusaha memahami dan
mengamalkannya.
Dan sebagai orang yang
berakal sehat, kita tentu sangat khawatir jika diri kita sampai masuk kategori
‘anjing’. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang bangga menduduki posisi
'anjing'. Na'udzubillah min dzalika.
(Jakarta, 8 Juli
2005)
Catatan Akhir
Pekan Adian Husaini ini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM dan
www.hidayatullah.com
|
0 komentar:
Posting Komentar